fungsi lensa objektif

Fungsi Lensa Objektif dalam Mikroskop

Setiap mikroskop pasti memiliki lensa objektif. Jenis lensa cembung ini merupakan salah satu komponen penting dalam sebuah mikroskop. Apa fungsi lensa objektif dalam mikroskop dan mengapa lensa ini begitu penting? Simak pembahasan lengkapnya berikut ini.

Apa itu lensa objektif

Banyak orang yang masih belum bisa membedakan antara lensa objektif dengan lensa okuler, padahal keduanya memiliki fungsi yang sangat berbeda. Lensa objektif termasuk ke dalam komponen optik sebuah mikroskop. Hal mendasar yang membedakan lensa objektif dengan lensa okuler terdapat pada letaknya dalam mikroskop.

Jika Anda mengamati sebuah mikroskop, Anda akan melihat adanya dua jenis lensa. Lensa yang letaknya paling dekat dengan mata pengamat adalah lensa okuler. Sementara itu, lensa yang letaknya paling dekat dengan objek yang diamati adalah lensa objektif. Dari sini, kita bisa mengetahui fungsi lensa objektif, yakni untuk memperbesar bayangan objek yang ingin diamati lebih jauh.

Dalam mikroskop, biasanya terdapat lebih dari satu macam lensa objektif, masing-masing dengan skala perbesaran yang berbeda. Macam-macam lensa objektif ini melekat pada sebuah revolver, sehingga Anda sebagai pengamat dapat dengan mudah mengganti macam lensa objektif, tergantung pada kebutuhan.

Fungsi lensa objektif

Sesuai dengan namanya, fungsi lensa objektif yang paling utama adalah untuk mengamati sebuah objek dengan lebih mendetail. Bagaimana caranya? Lensa objektif merupakan lensa cembung, sehingga mampu memperbesar bayangan objek yang terletak di depannya. Lensa objektif sendiri sangat variatif, tersedia dalam skala perbesaran 10x, 40x, hingga 100x.

Bisa dikatakan bahwa lensa objektif merupakan komponen utama dalam sebuah mikroskop, jika dilihat dari fungsi lensa objektif. Coba bayangkan, sebuah mikroskop tidak akan bekerja dengan optimal tanpa adanya lensa objektif yang memadai. Penting sekali untuk memiliki rangkaian lensa objektif dengan skala perbesaran yang variatif.

Jika ingin mengenal dan mengamati sebuah objek dengan lebih mudah, Anda memerlukan lensa objektif dengan skala perbesaran yang mumpuni. Terutama bila mikroskop tersebut digunakan untuk mengamati objek berukuran mikro, seperti sel atau organisme mikroskopik. Gabungan lensa objektif dengan lensa okuler berpengaruh kuat.

Komponen dalam mikroskop

Tentu saja sebuah mikroskop tidak hanya terdiri dari lensa objektif saja, tetapi juga dilengkapi dengan komponen lainnya. Terdapat dua bagian utama yang membentuk mikroskop, yakni bagian optik dan non optik. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, lensa objektif dan lensa okuler masuk ke dalam gabungan bagian optik.

Lengan mikroskop, diafragma, meja preparat, revolver, makrometer, mikrometer, penjepit, kondensor, cermin, dan sumber cahaya masuk ke dalam bagian non optik. Pada mikroskop cahaya, komponen kondensor yang bisa diatur ini berfungsi untuk mengumpulkan cahaya. Kemudian, diafragma mengatur besarnya cahaya yang masuk ke dalam mikroskop. Setelahnya, cahaya tersebut akan terpantul oleh cermin mikroskop.

Baca Juga : Peralatan di Laboratorium Mikrobiologi

Dengan begitu, pengamat pun mampu melihat melalui lensa okuler objek yang sudah dibesarkan oleh lensa objektif. Cukup menaruh objek tersebut di atas meja preparat, lalu atur fokus lensa menggunakan makrometer atau mikrometer.

Cara kerja mikroskop

Supaya Anda bisa lebih memahami fungsi lensa objektif dalam mikroskop, Anda juga harus tahu cara kerja sebuah mikroskop. Prosesnya cukup sederhana, pertama-tama letakkan objek di meja preparat. Atur cermin dan diafragma untuk mengatur cahaya, pastikan muncul bulatan terang saat Anda melihat ke lensa okuler. 

Anda pun sudah siap untuk mengatur fokus lensa menggunakan makrometer atau mikrometer. Detail dari objek akan terlihat melalui mikroskop. Anda bisa mengganti variasi lensa objektif apabila perbesaran objek masih dirasa kurang, putar saja revolver untuk mengganti lensa objektif. Sebetulnya, Anda juga bisa mengatur skala lensa objektif dan lensa okuler untuk memaksimalkan perbesaran objek pada mikroskop.

Contoh kasusnya seperti pada mikroskop dengan lensa okuler 5x dan lensa objektif 100x. Maka, objek yang diamati pun akan tampak 500x lebih besar dari ukuran semula. Bayangan objek yang dipantulkan oleh lensa objektif ini sifatnya nyata, terbalik, dan telah diperbesar. Bayangan ini kemudian ditangkap oleh lensa okuler, sehingga akhirnya bisa Anda amati dengan mata telanjang. 

pengertian sterilisasi

Pengertian Sterilisasi dan Pernan Dalam Mikrobiologi

Proses sterilisasi sendiri bukan istilah yang benar-benar asing, bahkan bagi orang awam sekalipun. Paling tidak pernah sekali bersinggungan dengan istilah ini, baik itu saat sedang melakukan pemeriksaan medis atau mendengar istilah ini saat di bangku pendidikan. Sterilisasi sendiri punya peran penting terutama dalam mikrobiologi, berikut ulasan selengkapnya.

Pengertian sterilisasi

Pengertian sterilisasi ini pada umumnya diartikan sebagai proses pemanasan yang mana dilakukan untuk mematikan segala bentuk organisme. Satu benda dikatakan steril jika dipandang dari sudut pandang mikrobiologi ini berarti benda tersebut sudah bebas dari mikroorganisme hidup yang tidak diinginkan. Inilah pengertian sterilisasi secara singkat.

Benda atau substansi tertentu hanya dapat disebut steril atau tidak steril, tidak pernah terjadi dalam proses sterilisasi terjadi kondisi setengah steril atau hampir steril. Pengertian sterilisasi jadi jelas di sini, di mana proses ini berarti membunuh semua jasad renik yang ada, hingga pada akhirnya tidak ada lagi jasad-jasad renik pada medium atau substansi tertentu yang dapat berkembang biak.

Peranan sterilisasi dalam mikrobiologi

Pada bidang mikrobiologi khususnya, sterilisasi ini memiliki peranannya sendiri. Peranan ini adalah untuk mencegah terjadinya pencemaran organisme luar, termasuk mempertahankan kondisi substansi yang aseptis. Sementara sterilisasi memiliki peran di bidang lain, seperti pembuatan makanan dan obat-obatan. Sterilisasi ini punya peran untuk menjamin tidak terjadinya pencemaran atau kontaminasi oleh mikroorganisme.

Dalam mikrobiologi sendiri, pengertian sterilisasi ini bisa diartikan sebagai proses untuk mematikan semua organisme yang ada pada suatu benda atau terdapat di dalam benda tersebut. Saat melakukan proses pemindah-biakan bakteri dengan cara aseptik terutama, sterilisasi ini akan berperan sangat besar.

Baca Juga : Mengenal Jenis-Jenis Media Mikrobiologi

Maka jelas bahwa proses sterilisasi sendiri jadi bagian penting dalam bidang mikrobiologi, bahkan bisa dikategorikan sebagai aspek wajib untuk dipelajari dan dipahami. Baik itu berbicara tentang alatnya atau mediumnya. Sterilisasi menjadi begitu penting saat alat-alat atau media terbukti tidak steril. Akan terjadi kesulitan dalam menentukan status mikroba sebagai hasil atau kontaminan dalam sebuah percobaan.

Apalagi bila mengingat bahwa risiko bekerja di laboratorium mikrobiologi ini cukup tinggi, sehingga seorang laboran harus selalu skeptis dan berasumsi bahwa pada setiap mikroorganisme terdapat potensi patogen. Itu sebabnya diperlukan kewaspadaan agar tidak terjadi infeksi oleh bakteri. Di sinilah peran penting dari sterilisasi itu sendiri. Pada akhirnya, sterilisasi dapat menjamin keamanan dan keselamatan selama bekerja di laboratorium mikrobiologi.

Cara melakukan sterilisasi

Ada banyak cara untuk melakukan sterilisasi yang efektif. Beberapa cara juga didukung dengan alat-alat yang dapat membuat proses sterilisasi jadi lebih optimal. Ada beberapa cara lain yang dapat dilakukan dalam skala rumahan dengan memanfaatkan metode-metode sederhana dengan prinsip serupa.

Cara pertama ini dilakukan dengan menggunakan oven dengan uap yang sangat tinggi. Biasanya digunakan untuk mensterilkan benda-benda yang terbuat dari bahan logam. Oven dengan fungsi sterilisasi ini biasanya digunakan di laboratorium penelitian ilmiah atau di rumah sakit untuk mensterilkan alat-alat operasi dan sejenisnya. Dengan memanfaatkan uap panas, Anda bisa mematikan mikroorganisme yang terdapat pada alat-alat tersebut agar barang jadi steril sebelum siap untuk digunakan kemudian.

Cara kedua untuk melakukan sterilisasi adalah dengan menggunakan lampu yang memancarkan sinar UV. Lampu sinar UV ini biasanya dipasang pada suatu ruang atau bilik untuk melakukan sterilisasi secara menyeluruh pada obyek-obyek yang ukurannya juga cukup besar. Penggunaannya juga disarankan tidak lebih dari lima belas menit, jadi tidak begitu lama agar tidak membahayakan.

Cara berikutnya menggunakan autoclave kering, yakni alat sterilisasi yang menggunakan uap bertekanan sangat tinggi dalam ruangan tertutup. Sementara autoclave basah biasanya menggunakan air mendidih untuk mensterilkan substansi-substansi tertentu dalam beberapa menit. Cara yang terakhir ini juga yang paling banyak ditiru untuk melakukan proses sterilisasi mandiri di rumah dengan barang-barang tertentu.

Ini karena caranya yang cukup mudah, hanya dengan merebus substansi tertentu dalam air yang sedang mendidih selama 15-20 menit untuk mensterilkan benda tersebut. Cara ini mampu memastikan tidak ada lagi bakteri dan kuman atau mikroorganisme lain pada benda tersebut, sehingga benar-benar bersih dan dapat digunakan kembali.

pengertian kromatografi

Pengertian Kromatografi dan Jenis-jenisnya

Kromatografi sendiri pada dasarnya adalah proses yang umum digunakan untuk melakukan pemisahan komponen yang terdapat dalam sampel serta dapat didistribusikan dengan dua fase, baik fase gerak maupun fase diam. Termasuk memisahkan kandungan absorban pada bahan seperti kaca, plastik, atau kertas aluminium. Ulasan berikut ini akan membahas lebih lengkap lagi mengenai pengertian kromatografi serta jenis-jenis proses kromatografi yang kerap diterapkan kini.

Pengertian kromatografi

Pengertian kromatografi sendiri merujuk pada teknik pemisahan sejenis molekuler yang didasarkan pada pola gerakan yang berbeda antara fase diam dan fase geraknya sebagai cara memisahkan komponen dalam molekul tersebut. Molekul ini biasanya akan dilarutkan dalam fase gerak dengan melewati fase diam.

Dalam suatu molekul yang memiliki satu ikatan kuat dengan kolom, biasanya cenderung bergerak dengan lebih lambat daripada molekul lainnya dengan jenis ikatan yang lebih lemah. Berdasarkan jenis molekul tersebut, komponen lalu dapat dipisahkan dengan pergerakan kolom. Untuk dapat memahami pengertian kromatografi ini, akan dijelaskan lebih rinci lagi dalam pembagian jenis-jenis kromatografi di bawah ini.

Jenis-jenis kromatografi

Tidak hanya satu, setidaknya ada empat jenis prosesi kromatografi yang banyak digunakan atau diterapkan kini.

1. Kromatografi kertas

Kromatografi kertas ini merupakan jenis kromatografi yang menggunakan fase kertas stasioner. Kertas ini merupakan kertas dengan kandungan selulosa, sementara fase geraknya menggunakan pelarut atau campuran pelarut yang cocok. Kertas di sini akan bertindak sebagai fase diam yang nantinya akan dicelupkan ke dalam pelarut atau sampel. 

Selanjutnya kertas fase diam ini dicelupkan dalam pelarut yang akan diserap oleh kekuatan dari kapiler kertas dan dipindahkan ke bagian atas atau permukaan. Kertas kromatografi biasanya dipakai untuk memisahkan tinta, pewarna, serta senyawa tanaman yang biasa terdapat pada makeup, klorofil, atau zat-zat lainnya.

2. Kromatografi cair

Jenis kromatografi berikutnya ini adalah kromatografi cair yang jadi salah satu teknik yang paling cocok saat akan memisahkan molekul atau ion yang terkandung atau terlarut dalam suatu larutan. Saat larutan sampel akhirnya berinteraksi dengan fase diam, maka molekul-molekul di dalam larutan akan berinteraksi terhadap fase diam.

Pada praktiknya kemudian, terdapat perbedaan dalam penyerapan atau adsorpsi serta partisi juga pertukaran ion dan ukurannya. Perbedaan memisahkan komponen yang satu dengan komponen yang lain serta bagaimana itu ditandai dalam jumlah waktu yang berbeda, menunjukkan bahwa komponen melakukan transit melewati kolom. Untuk jenis kromatografi cair ini sendiri dibagi jadi beberapa jenis lagi.

Baca Juga : Mari Mengenal Spektrometer Massa dan Fungsinya

Jenis-jenis kromatografi cair ini adalah kromatografi cair kinerja tinggi (High Performance Liquid Chromatography) yang disingkat HPLC, kromatografi fase terbalik (Reverse Phrase Chromatography) atau disingkat RPC, dan kromatografi pertukaran ion (Ion Exchange Chromatohraphy). Jenis ini dibedakan berdasarkan jenis komponen serta proses yang dilakukan.

3. Kromatografi lapis tipis

Kromatografi lapis tipis dapat disebut sebagai teknik yang memungkinkan untuk melakukan analisa dalam proses kualitatif. Proses ini berasal dari sampel dan akan diuji dengan cara memisahkan komponen sampel dengan berdasarkan pada perbedaan polaritasnya. Untuk kromatografi lapis tipis ini prinsip kerjanya adalah memisahkan sampel berdasarkan polaritas dari pelarut dan sampel yang nantinya digunakan.

Umumnya yang terjadi dalam teknik kromatografi lapis tipis adalah pelat gel silicon akan digunakan sebagai fase gerak sekaligus fase diam. Ini digunakan dengan disesuaikan terlebih dahulu dengan jenis sampel yang akan dipisahkan kemudian. Larutan atau campuran yang akan digunakan ini dikenal dengan sebutan eluen.

3. Kromatografi kolom

Ini adalah jenis kromatografi yang dapat dilakukan dengan kolom gelas. Pada umumnya, jenis kromatografi kolom ini digunakan untuk melakukan pemisahan pigmen pada tanaman. sebuah campuran dalam pigmen tersebut kemudian ditempatkan dalam kolom gelas dengan kandungan konten alumina.

Pelarut lalu akan dikeringkan untuk membawa campuran yang akan melewati kolom. Pigmen akan bergerak turun melalui kolom di tingkat tertentu, bergantung pada daya serap pigmen terhadap alumina. Pigmen yang diserap sedikit pada alumina akan melewati kolom lebih cepat. Pigmen yang diserap kuat oleh alumina akan melewati kolom lebih lambat. Selanjutnya, pigmen akan disimpan dan menyatu pada titik lain begitu keluar dari kolom.

Demikian penjelasan mengenai pengertian kromatografi serta jenis-jenis kromatografi yang kerap digunakan dalam proses ilmiah. Sesuai dengan kebutuhan jenis komponen yang akan dipisahkan kemudian.

pengertian evaporasi

Pengertian Evaporasi, Faktor, dan Prosesnya

Fenomena alam yang terjadi saling berkaitan antara satu kondisi lingkungan itu sendiri. Ada banyak faktor yang saling mempengaruhi proses terjadinya beberapa fenomena alam dan ini menarik untuk diketahui lebih jauh. Salah satunya yang selalu terjadi setiap hari adalah proses penguapan atau yang dikenal juga dengan istilah evaporasi. Fenomena alam yang rutin terjadi ini memengaruhi ekosistem serta bagaimana makhluk hidup beraktivitas dan hidup. Ini dia penjelasannya lebih lengkap dalam ulasan di bawah ini.

 

Pengertian evaporasi

Secara ilmiah, pengertian evaporasi sendiri merujuk pada sebuah proses di mana es mengalami perubahan menjadi gas atau uap air. Itu sebabnya juga evaporasi disebut penguapan. Susunan kimia dari air (H2O) ini terbagi secara alamiah dalam tiga wujud bentuk, yakni gas, cair, juga padat. Air adalah satu-satunya elemen di bumi yang tidak berubah susunan kimiawinya walau wujudnya berubah.

Air dapat mengalami perubahan bentuk dari satu bentuk ke bentuknya yang lain ini dengan pengaruh suhu. Molekul pada air ini sendiri dapat memenuhi ruang yang sama. Molekul air ini termasuk jenis molekul yang tidak punya energi yang cukup untuk dapat lepas dari susunannya. 

Faktor-faktor evaporasi

Terdapat faktor-faktor yang mendorong terjadinya evaporasi, ada faktor yang bersifat langsung, ada juga faktor tidak langsung. Faktor langsung ini merujuk pada faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses terjadinya penguapan itu sendiri. Faktor langsung yang pertama tentu saja temperatur.

Saat temperatur semakin tinggi, maka semakin besar pula evaporasi yang akan terjadi. Saat tekanan uap semakin tinggi pada uap air tersebut, evaporasi juga semakin tinggi. Selain temperatur, faktor langsung lainnya adalah kecepatan angin. Semakin cepat angin ini, semakin besar pula terjadinya penguapan atau evaporasi.

Faktor-faktor langsung lainnya termasuk juga kelembaban udara. Apabila kondisi kelembaban udara sedang tinggi, evaporasi yang terjadi akan semakin rendah. Intensitas sinar matahari juga banyak berpengaruh di sini. Semakin lama terpapar sinar matahari, evaporasi yang terjadi juga semakin tinggi.

Sementara faktor tidak langsung yang mempengaruhi proses evaporasi di sini adalah tata letak lintang, di mana lokasi evaporasi terjadi, ketinggian dari tempat tersebut sendiri, serta periode waktu evaporasi terjadi. Biasanya, dalam rentang bulan-bulan tertentu, intensitas evaporasi akan lebih tinggi daripada di bulan-bulan yang lain.

Proses evaporasi

Proses evaporasi dimulai dengan cairan pada molekul yang memperoleh energi yang cukup untuk melakukan perubahan wujud (menguap). Energi yang dimaksud ini adalah energi panas yang diperoleh dari lingkungan, yang akan mengubah molekul air menjadi uap.

Proses evaporasi kerap terjadi pada permukaan cairan, namun pada kenyataannya evaporasi juga dapat terjadi pada tubuh atau substansi yang bervolume. Saat penguapan sudah terjadi, maka tekanan uap ini akan jadi lebih rendah dari hasil tekanan atmosfer di sekitarnya. Ini dikenal dengan istilah kondensasi.

Kondensasi ini pada dasarnya adalah kebalikan dari proses terjadinya penguapan. Ini mungkin terjadi jika suhu uap berubah menjadi substansi dingin. Sehingga, proses menguap akan berganti menjadi mengembun, membuat substansi kembali ke bentuk asalnya, yakni berbentuk cair.

Jenis-jenis evaporasi

Dalam proses evaporasi sendiri ada perbedaan satu sama lain. Itu sebabnya terdapat jenis-jenis yang membedakan antara satu evaporasi dan evaporasi lainnya. Tentunya jenis ini adalah jenis evaporasi buatan yang prosesnya mengadaptasi proses evaporasi alamiah yang merupakan bagian dari fenomena alam.

 

Evaporasi yang pertama ini dikenal dengan istilah submerged combustion evaporator, di mana prosesnya adalah pemanasan dengan menggunakan api. Api ini menyala di bawah permukaan sebuah cairan. Gas panas dari api ini yang kemudian akan mengalir melewati cairan dan membentuk uap (evaporate).

 

Jenis evaporasi yang kedua ini dikenal dengan nama direct fired evaporator. Proses penguapan di sini terjadi dengan pengapian secara langsung. Api dan cairan terpisah dengan adanya dinding besi atau substansi lain untuk memanaskan. Cairan akan mendidih di sini dan menghasilkan uap.

 

Steam heated evaporator adalah jenis evaporasi lainnya yang dilakukan dengan pemanasan. Di sini akan terjadi proses kondensasi dari sumber panas. Uap terkondensasi pada satu sisi, sementara di sisi lain ada cairan mendidih, penguapan akan dilakukan dengan transmisi di sini melalui tabung-tabung. Ini paling umum ditemukan di pabrik industrial.

satuan viskositas

Ini Satuan Viskositas yang Perlu Anda Ketahui

Untuk memindahkan sirup menggunakan sendok, dibutuhkan kekuatan yang lebih besar daripada air karena sirup lebih sulit untuk mengalir di sekitar sendok. Fenomena inilah yang dinamakan viskositas. Sirup memiliki viskositas yang lebih tinggi daripada air. Viskositas tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk ukuran molekul, interaksi antar molekul dan suhu molekul. Viskositas dapat diukur dan memiliki satuan viskositas. Berikut ini adalah satuan viskositas yang perlu Anda ketahui.

Pengertian viskositas

Sebelum mengenal lebih lanjut mengenai satuan viskositas, ada baiknya apabila kita memahami apa itu viskositas secara teori. Viskositas adalah cara yang digunakan untuk mengukur daya tahan atau kekentalan terhadap suatu aliran cairan. Suatu jenis cairan dinyatakan memiliki viskositas yang rendah jika cairan tersebut mudah mengalir, sementara jika sulit mengalir, maka jenis cairan tersebut memiliki viskositas yang tinggi.

Berbicara mengenai kekentalan/viskositas, maka berkaitan dengan bagaimana sebuah aliran dapat terhambat untuk mengalir. Adanya hambatan yang dihasilkan dari gaya kohesi antara molekul zat cair dalam aliran tersebut kemudian menimbulkan gesekan antara dua bidang, Sementara pada gas, viskositas dihasilkan dari tabrakan antara molekul gas.

Baca Juga : Viskositas: Definisi dan Contohnya

Pengukuran viskositas dilakukan dengan cara mengukur laju cairan melalui tabung berbentuk silinder. Penentuan nilai viskositas zat cair dapat ditentukan dengan besaran yang disebut sebagai koefisien viskositas. Satuan SI untuk koefisien viskositas adalah pascal sekon (Pa.s), atau dapat ditulis dalam Ns/m2. Sedangkan dalam sistem satuan CGS, satuan koefisien viskositas adalah poise (P). Selain itu, nilai viskositas nantinya bisa digunakan untuk menentukan kecepatan mengalirnya cairan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai viskositas

Viskositas dipengaruhi oleh koefisien kekentalan zat cair itu sendiri, massa jenis dari fluida tersebut, bentuk atau besar dari partikel fluida itu sendiri. Cairan yang partikelnya besar dan memiliki bentuk tidak teratur cenderung memiliki viskositas lebih tinggi daripada cairan yang memiliki partikel kecil dan bentuk yang teratur.

Selain itu, suhu juga mempengaruhi besaran viskositas suatu cairan. Suhu berbanding terbalik dengan viskositas. Semakin tinggi suhu yang dialami sebuah cairan, maka semakin kecil viskositasnya. Sebaliknya, semakin rendah suhu sebuah cairan, maka semakin besar viskositasnya.

Jenis-jenis viskositas dan satuannya

Viskositas memiliki 2 jenis: viskositas absolut (koefisien viskositas mutlak) dan viskositas kinematik.

Viskositas absolut merupakan gaya tangensial per satuan luas yang dibutuhkan agar dapat memindahkan suatu bidang horizontal ke sebuah bidang lainnya dalam unit velositas.

Satuan viskositas dinamis dalam sistem satuan internasional (SI) adalah Ns/m2 atau Pa.s atau kg/(ms). Perhatikan persamaan berikut.

1Pa s = 1Ns/m2 = 1kg/(ms)

Apabila dinyatakan dalam satuan sistem CGS, maka satuan yang berlaku adalah satuan centipoise. Perhatikan persamaan berikut.

1 centipoise = 1dyne s/cm2 = 1g/(cm s) = 1/10 Pa s = 1/10 Ns/m2

Jenis viskositas selanjutnya adalah viskositas kinematis. Viskositas kinematis adalah rasio antara viskositas absolut untuk kepadatan (densitas) dengan jumlah di mana tidak ada kekuatan yang terlibat. Viskositas kinematik dapat diidentifikasi dengan membagi viskositas absolut cairan dengan densitas massa cairan

Satuan internasional (SI) satuan viskositas kinematis adalah m2/s atau Stoke (St). Perhatikan persamaan berikut.

1 st = 10-4 m2/s = 1cm2/s

Stoke perlu dibagi dengan angka 100 terlebih dahulu agar menjadi unit yang lebih kecil karena awalnya Stoke adalah satuan unit yang besar. Istilah unit yang lebih kecil tersebut adalah centiStoke (cSt). Oleh karenanya, maka persamaannya akan berubah menjadi:

1St = 100cSt
1cSt = 10-6m2/s = 1mm2/s

 

Itulah beberapa satuan viskositas yang perlu Anda ketahui. Dengan memahami satuan viskositas di atas, maka penentuan besaran viskositas akan jadi lebih mudah.