Fungsi Inkubator Mikrobiologi

Inkubator mikrobiologi merupakan alat yang biasanya digunakan untuk menginkubasi mikroorganisme, misalnya saja seperti fungi, mikroba, hingga sel mikroba jenis lainnya pada kondisi tertentu.

Jenis-jenis inkubator Laboratorium

Beberapa jenis inkubator yang sangat sering digunakan di dalam laboratorium diantaranya adalah sebagai berikut.

–       Inkubator serbaguna (General Incubator)

–       Inkubator BOD suhu rendah

–       Inkubator 2 ruang

–       Inkubator multi ruang

–       Inkubator Goyang (g Incubator)

–       Inkubator Dingin Peltier

–       Inkubator goyang multi-rak

–       Inkubator dengan jaket CO2

Selain inkubator laboratorium, ternyata inkubator juga digunakan pada peternakan seperti bebek, ayam, dan hewan unggas lainnya. Sedangkan di rumah sakit adalah inkubator bayi yang dibutuhkan untuk mengkondisikan bayi yang lahir secara prematur.

Fungsi dan kegunaan inkubator mikrobiologi

Alat laboratorium yang satu ini sering ditemui di dalam laboratorium mikrobiologi daripada laboratorium kimia. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kondisi ruangan yang ada di dalam laboratorium secara keseluruhan akan mempengaruhi pertumbuhan kultur mikroorganisme yang sedang dibudidayakan. Ketika ada bahan kimia yang diletakkan di dalam laboratorium kimia, tentunya bisa saja menguap, bahkan dapat menyebabkan kontaminasi silang. Maka dari itu, untuk meminimalisir terjadinya hal tersebut, maka inkubator ditempatkan di dalam laboratorium mikrobiologi atau biologi.

Tahukah anda apa fungsi paling utama dari inkubator? Ya, fungsi utamanya adalah untuk menjaga atau mengontrol kondisi lingkungan yang ada di dalam inkubator, mulai dari kelembapan, hingga suhu. Dengan adanya inkubator, maka mahasiswa, hingga dosen akan terbantu saat hendak melakukan penelitian yang berhubungan dengan pertumbuhan mikroorganisme, baik jamur, ragi, fungi, bakteri, dan sebagainya. Pengaturan kondisi yang ada di dalam inkubator tentunya akan memberikan informasi mengenai kondisi optimal pertumbuhan mikroorganisme yang bisa dilihat baik secara reaksi kimia maupun faktor biologis. Sehingga, inkubator mikrobiologi sangat membantu seorang peneliti untuk mengetahui pengembangbiakan bakteri. Tanpa adanya inkubator ini, dan hanya mengandalkan indera saja, sungguh akan sulit untuk dilakukan.

Mengetahui fitur inkubator laboratorium

Inkubator sendiri dirancang untuk pengaturan ruang yang ada di dalamnya sesuai dengan kelembapan, suhu optimal, karbondioksida (CO2), dan rasio oksigen (O2). Rentang pengaturan suhu inkubator mulai dari ± 5°C – 70°C. Anda bisa mengatur suhunya sesuai dengan kebutuhan dalam menumbuhkan mikroorganismenya. Inkubator kebanyakan dilengkapi dengan pengatur waktu.

Bukan hanya itu saja, kapasitas dari inkubator juga sangat bervariasi. Anda bisa menemukan inkubator dari mulai ukuran yang kecil, hingga yang besar. Variasi ukuran dari inkubator adalah berdasarkan volume, mulai dari 48Lhingga 170L. Beberapa inkubator juga ada yang dilengkapi dengan shaker.

Proses dari inkubator ini sendiri disebut dengan inkubasi. Inkubasi adalah suatu kondisi perlakukan terhadap mikroorganisme yang diinokulasikan terhadap media tumbuhnya, dengan menggunakan media cair atau padat. Media yang sering digunakan ada yang terbuat dari pepton, ekstrak beef, dan agar. Setiap bahan harus ditimbang terlebih dahulu dengan cermat menggunakan timbangan analitik. Umumnya, alat gelas yang digunakan untuk inokulasi adalah tabung reaksi atau cawan petri. Jika sudah diinokulasikan pada media, maka tahap selanjutnya adalah menyimpannya di dalam inkubator pada kondisi atau suhu tertentu.

Para peneliti bisa melihat pertumbuhan mikroorganisme dengan berkala. ketika suhu inkubasi tidak sesuai kondisi optimal yang dibutuhkan mikroorganisme untuk tumbuh, tentunya mikroorganisme tersebut tidak bisa tumbuh dengan baik.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *