Metode penyimpanan sampel

Metode penyimpanan sampel untuk ekstraksi DNA rentan terhadap tiap risiko yang akan terjadi, jika tidak disimpan dengan baik. Pada proses analisis, membutuhkan teknik sampling dan ekstraksi DNA yang cepat dan akurat.

Metode penyimpanan sampel untuk pemeriksaan DNA, yakni menggunakan wadah tabung yang perlu disimpan dalam freezer dengan suhu -20°C untuk mempertahankan kualitas dari DNA. Sampel yang digunakan untuk analisis umumnya diambil dari lapangan dengan durasi cukup lama hingga sampai ke laboratorium.

Karenanya diperlukan langkah preventif untuk menjaga sampel yang telah diambil tidak rusak akibat adanya jeda waktu hingga proses penanganan. Sebab, pengambilan sampel di lapangan memiliki risiko terhadap hasil akhir analisis. Untuk itu, sampel perlu disimpan dalam suhu dingin pada freeze dengan suhu 4°C.

Akan tetapi, jarak pengambilan sampel dengan laboratorium cukup sehingga membutuhkan waktu untuk dimasukkan ke dalam freezer. Dengan demikian, diperlukannya teknik penyimpanan yang tidak memerlukan freezer namun tetap sesuai dengan aspek biosafety. Sampel DNA/RNA, darah, bakteri, dan virus, merupakan beberapa sampel yang cukup rentan dan perlu ditanganin.

Metode penyimpanan sampel

Tujuan penyimpanan sampel ialah untuk mempertahankan kondisi sampel agar tetap sesuai dengan aslinya, seperti saat pengambilan sampel dan meminimalisir kontaminasi terhadap sampel hingga akan dilakukannya analisis pada sampel tersebut. Dalam hal ini, sampel yang didapat di lapangan harus terlindung dari kontaminasi luar, misalnya udara serta peralatan sampel.

Wadah sampel perlu diperhatikan, yang mana tidak boleh lebih dari ¾ ukuran wadah. Hal ini, dilakukan untuk menghindari kebocoran dari tutup dan dapat memudahkan saat shaking.

Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan adalah suhu. Sebab, terdapat beberapa sampel yang sensitif terhadap suhu. Dengan demikian, pencatatan suhu saat pengambilan sampel dan dilakukan analisis di laboratorium harus dilaksanakan.

Selanjutnya, penyimpanan menggun akan es untuk mendinginkan sampel dalam wadah atau box sebaiknya dihindari. Dikarenakan, air dapat mengontaminasi sampel jika terjadi kebocoran atau wadah yang robek.

Jika sangat terpaksa, dapat dilakukan pembungkusan terpisah. Alternatif lain, untuk mengatasi masalah ini dapat menggunakan Dry Ice, IsoTherm-system atau PCR cooler untuk mengatasi sampel DNA/RNA sebelum melakukan running.

Iso Therm-system biasanya terdiri dari Iso rack (rak kerja), IsoSate (kotak isolasi), dan iso packs. Ideal untuk mendinginkan, mengangkut, juga menyimpan sampel yang beku. Teknologi inkubasi kering mengurangi resiko kontaminasi dan lebih aman bagi sampel.

PCR cooler dapat digunakan untuk persiapan sampel, perlindungan, pengangkutan, pun penyimpanan sampel sensitif untuk menjaga agar sampel tetap aman. Berikutnya, terdapat indikator suhu yang jelas berdasarkan warna.

Warna PCR cooler akan berubah ketika suhu melebihi 7°C kemudian dapat menjaga plat 96-well tetap dingin lebih dari satu jam pada suhu 0°C (dengan pendinginan awal selama dua jam pada -20°C).

Dapat pula menggunakan teknologi baru, FTA (Flinders Technology Associates) cards. Kertas berfilter yang dapat menyimpan DNA dalam jumlah kecil/minimal, misalnya setitik darah, usapan cairan tubuh atau feses, material tanaman, plasmid, virus dan bakteri.

Penyimpanan sampel dalam waktu panjang juga harus diperhatikan, di mana sampel tidak digunakan langsung untuk analisis harus disimpan dalam suhu <-15°C, akan lebih baik lagi pada suhu <-18°C di dalam freezer. Penyimpanan ini, bergantung dari sampel yang digunakan karena setiap sampel yang berbeda memerlukan perlakuan yang berbeda.

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *