Teknik Kriopreservasi

Apa yang Dimaksud Teknik Kriopreservasi?

Pelestarian organisme atau penyimpan secara in vitro memiliki beberapa teknik, yakni penyimpanan jangka pendek, dan panjang. Penyimpanan ini, menggunakan metode atau teknik kriopreservasi.

Teknik kriopreservasi merupakan teknik penyimpanan pada suhu yang sangat rendah yaitu di -196° C dalam nitrogen cair. Teknik ini, dapat digunakan untuk penyimpanan sel hewan, tumbuhan ataupun materi genetik lain, seperti semen.

Penggunaan suhu rendah menyebabkan terjadinya pembekuan dan mereduksi aktivitas metabolisme, tetapi tanpa mempengaruhi organel-organel di dalam sel sehingga fungsi fisiologis, biologis dan morfologis masih terjaga. Plasma nutfah yang disimpan menggunakan teknik kriopreservasi disebut sebagai base collection atau koleksi dasar dalam bank gen in vitro.

Teknik kriopreservasi dibagi menjadi dua, yakni.

Teknik Kriopreservasi Lama (Klasik)

Teknik lama disebut juga teknik pembekuan dua tahap atau teknik pembekuan lambat, di mana pembekuannya dua tahap meliputi inkubasi sel pada krioprotektan dengan total konsentrasi 1-2 M. Hal ini, menyebabkan dehidrasi moderat dan diikuti oleh pembekuan lambat, misalnya dengan kecepatan 1o C/menit hingga suhu -35o C. Lalu, pembekuan dalam nitrogen cair dan selanjutnya thawing (pelelehan). Teknik lama hanya dapat diterapkan untuk spesies tertentu.

 

Teknik Kriopreservasi Baru

Teknik baru didasarkan pada vitrifikasi. Vitrification (vitrifikasi) adalah fase transisi air dari bentuk cair menjadi bentuk nonkristalin atau amorf, tembus pandang (glassy) karena elevasi ekstrim dari larutan yang viskos selama pendinginan. Teknik baru dapat diterapkan pada skala spesies yang lebih luas dan jenis eksplan yang lebih banyak

Kelebihan dan Kekurangan

Teknik penyimpanan kriopreservasi memilki kelebihan dan kekurangan, kelebihannya, yaitu.

  1. Teknik kriopreservasi tidak memerlukan tindakan subkultur yang berulang-ulang sehingga dapat lebih efektif dan efisien dalam hal waktu, tenaga, ruang, biaya
  2. Mengurangi risiko kontaminasi serta kehilangan vigoritas karena kehabisan unsur hara yang terdapat dalam media.
  3. Penyimpanan tahan lama hingga 20 tahun tanpa memerlukan tindakan subkultur yang berulang-ulang
  4. Penyimpan menggunakan suhu yang sangat rendah, tidak menggunakan zat penghambat tumbuh yang memiliki resiko terjadinya perubahan genetik .

Kekurangan teknik kriopreservasi, memerlukan keterampilan khusus serta kebutuhan nitrogen cair dalam jumlah besar karena diperlukan secara kontinu atau berlanjut.

Setelah teknik ini, dilakukan, tolak ukur keberhasilannya tidak hanya ditunjukkan oleh kemampuan hidup dan regenerasi, tetapi hasil pasca kriopreservasi juga yang ditentukan oleh tingkat stabilitas genetiknya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *